Kecerdasan dan Tanda Keagungan Nabi Muhammad SAW di Masa Kecil
Pendahuluan
Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, wa bihi nasta’inu ‘ala umurid dunya wad din, wa shallallahu wa sallam ‘ala sayyidina wa maulana Muhammadin khatamin nabiyyin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du.
Puji dan syukur senantiasa kita panjatkan ke hadirat Allah SWT atas segala limpahan rahmat dan karunia-Nya. Selawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita, Nabi Agung Muhammad SAW, beserta keluarga, para sahabat, dan pengikutnya hingga akhir zaman.
Kajian Sirah Nabawiyah kali ini mengajak kita mendalami kembali lembaran-lembaran suci perjalanan hidup Rasulullah SAW pada masa-masa awal kehidupan beliau. Ketika berusia kurang lebih satu bulan, Nabi Muhammad SAW dipercayakan untuk diasuh oleh Siti Halimah As-Sa’diyah dan dibawa tinggal di tengah kabilahnya. Sejak kehadiran Nabi kecil di pemukiman tersebut, pancaran keberkahan yang luar biasa dan tanda-tanda keagungan yang menakjubkan seketika menyelimuti seluruh kehidupan Siti Halimah dan masyarakat sekitarnya.
Keberkahan dan Pertumbuhan Menakjubkan Nabi SAW di Bawah Asuhan Halimah As-Sa’diyah
Bentuk-Bentuk Keberkahan Fisik & Lingkungan
Pengasuhan Nabi Muhammad SAW membawa perubahan nyata dan nyata dirasakan oleh Siti Halimah As-Sa’diyah beserta kabilahnya. Bentuk-bentuk keberkahan tersebut antara lain:
- Kelimpahan Susu Ternak: Kambing perahan milik Halimah yang sebelumnya kering dan tidak mengeluarkan susu, mendadak memancar deras sesaat setelah menyusui Nabi kecil.
- Kondisi Hewan Ternak: Hewan-hewan ternak kabilah yang semula kurus dan lemah berubah menjadi gemuk, sehat, dan menghasilkan susu melimpah.
- Keharuman Pemukiman: Lingkungan perkampungan kabilah Halimah seketika berbau harum semerbak setiap kali Nabi kecil berada di sana.
- Kesembuhan Penyakit: Masyarakal kabilah yang mengalami sakit dapat sembuh seketika hanya dengan diusap oleh tangan mungil Nabi SAW.
Ketika Nabi SAW genap berusia 2 tahun, Siti Halimah membawa beliau kembali kepada ibunda kandungnya, Siti Aminah. Awalnya Siti Aminah merasa masa pengasuhan sudah cukup dan hendak mengambil kembali putranya. Namun, Siti Halimah merayu dan memohon agar Nabi diizinkan tinggal lebih lama bersama mereka karena Halimah dan keluarganya enggan kehilangan limpahan keberkahan tersebut. Atas kerelaan dan izin Siti Aminah, Nabi SAW akhirnya dibawa kembali untuk diasuh oleh Halimah.
Tanda Kecerdasan dan Perkembangan Luar Biasa (Usia 8 Bulan – 10 Bulan)
Siti Halimah meriwayatkan bahwasanya pertumbuhan fisik dan kecerdasan Nabi SAW berkembang sangat cepat serta melampaui anak-anak sebayanya:
- Usia 8 Bulan: Nabi SAW sudah dapat berbicara dan perkataan beliau sudah dapat dipahami dengan jelas oleh orang dewasa.
- Usia 9 Bulan: Perkataan beliau menjadi sangat fasih dengan pemahaman bahasa yang begitu matang.
- Usia 10 Bulan: Nabi SAW sudah mulai belajar memanah bersama anak-anak yang usianya jauh di atas beliau. Hal ini menjadi bentuk persiapan awal untuk jihad fi sabilillah sekaligus penguasaan olahraga yang disunnahkan.
Peristiwa Pembelahan Dada (Haditsatu Syaqqis Sadr) pada Usia 4 Tahun
Kronologi Kejadian
Peristiwa pembelahan dada (Syaqqus Sadr) pada usia 4 tahun merupakan kejadian fisik yang nyata (dibelah betulan), bukan kiasan, majas, ataupun perumpamaan semata. Sahabat Anas bin Malik RA mengonfirmasi fakta ini dengan menyatakan bahwa beliau pernah melihat langsung bekas jahitan yang membentang di dada Rasulullah SAW.
Kronologi peristiwa sakral ini diriwayatkan melalui kesaksian Syima (kakak susuan Nabi/putri dari Halimah) serta penuturan langsung dari Nabi SAW:
- Saat Nabi SAW sedang bermain bersama saudara-saudara susuannya, datang dua orang pria berpakaian putih bersih yang asing dan tidak pernah terlihat di kabilah tersebut (yaitu Malaikat Jibril dan malaikat pendamping).
- Malaikat tersebut menghampiri Nabi SAW, mengambil beliau, dan memastikan identitasnya melalui dialog antar-malaikat: “Apakah ini betul Muhammad?” yang dijawab oleh malaikat lainnya, “Iya betul, ini orangnya Muhammad.”
- Saudara-saudara susuan Nabi yang melihat kejadian tersebut lari ketakutan kembali ke tempat kediaman orang tua mereka sambil berteriak bahwa Muhammad telah dicuri orang.
- Halimah dan suaminya segera berlari kencang menuju lokasi. Saat ditemukan, Nabi SAW sudah dalam posisi berdiri tegak dengan wajah yang tenang, setelah dada beliau dibelah, dibasuh dengan air Zamzam, diisi kembali, dan ditutup rapat.
Sikap dan Kesadaran Nabi
- Nabi SAW berada dalam keadaan sadar penuh dan menyaksikan langsung proses dadanya dibelah serta dibasuh oleh malaikat, tanpa merasakan rasa sakit sedikit pun.
- Nabi SAW menceritakan kejadian tersebut secara jujur dan polos kepada Siti Halimah bahwa beliau ditidurkan, dibelah dadanya, dan dikeluarkan suatu bagian darinya.
- Ketakutan atas keselamatan Nabi akibat peristiwa luar biasa inilah yang akhirnya mendorong Siti Halimah untuk mengembalikan Nabi SAW secara resmi kepada ibundanya, Siti Aminah.
Hikmah dan Penjelasan 4 Kali Peristiwa Pembelahan Dada Sepanjang Hidup Nabi
Dada Rasulullah SAW mengalami peristiwa pembelahan oleh malaikat sebanyak empat kali sepanjang perjalanan hidup beliau:
- Usia 4 Tahun (Masa Asuhan Halimah As-Sa’diyah): Berhikmah untuk mengeluarkan bagian setan (hadhdzus syaithan).
- Usia 10 Tahun: Berhikmah untuk menambahkan cahaya dan penguat pada jiwa beliau agar terhindar dari perilaku atau godaan masa muda yang tidak diridai Allah. Nabi SAW menegaskan penjagaan langsung dari Allah melalui sabdanya: “Addabani Rabbi fa-ahsana ta’dibi” (Yang mendidikku adalah Rabb-ku, maka sebaik-baik pendidikan adalah pendidikanku).
- Usia 40 Tahun: Berhikmah untuk menguatkan jasad dan ruh beliau sebelum menerima wahyu Al-Qur’an yang sangat berat (qaulan tsaqiilaa).
- Bukti Fisik Beratnya Wahyu: Sahabat meriwayatkan bahwa ketika wahyu turun saat Nabi menunggangi unta, unta tersebut seketika terduduk berlutut tidak sanggup berdiri. Bunda Aisyah RA juga menyaksikan Nabi berkeringat deras pada hari yang sangat dingin di Madinah saat menerima wahyu.
- Bukti Al-Qur’an: Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Hasyr bahwa jika Al-Qur’an diturunkan kepada gunung, niscaya gunung itu akan hancur lebur karena takut kepada Allah. Namun, Al-Qur’an menjadi ringan dibaca dan dihafal oleh manusia karena telah disaring dan dilalui melalui lidah suci Rasulullah SAW (yassarnahu bilisanik, Surah Maryam).
- Analogi Jasad dan Ruh: Jasad manusia ibarat sangkar dan ruh ibarat burung. Ruh jauh lebih kuat daripada jasad. Penguatan fisik dan ruh Nabi pada usia 40 tahun diperlukan agar jasad beliau sanggup menampung Kalamullah. Hal ini juga menjadi hikmah mengapa suatu amalan batin tertentu memerlukan ijazah dan bimbingan guru agar jasad seseorang tidak terguncang, stres, atau menjadi majdzub.
- Usia 51 Tahun (Sebelum Isra Mi’raj): Berhikmah untuk menguatkan jasad dan ruh beliau sebelum menempuh perjalanan menghadap Allah SWT secara langsung di Sidratul Muntaha.
- Perbandingan dengan Nabi Musa AS: Dalam Surah Al-A’raf, ketika Nabi Musa AS memohon untuk melihat Allah di Gunung Sinai, Allah menampakkan sedikit tajalli-Nya ke gunung tersebut hingga gunung hancur lebur dan Nabi Musa pingsan (sha’iqa). Pembelahan dada Nabi Muhammad SAW yang keempat kali diisi kembali dengan cahaya keagungan agar jasad dan ruh beliau kuat melihat Allah SWT tanpa pingsan.
Dua Takwilan Ulama Mengenai “Bagian Setan” (Hadhdzus Syaithan) pada Usia 4 Tahun
- Pendapat Pertama (Pintu Masuk Setan / Bab As-Syaithan): Sebagai manusia yang sempurna (basyarun laa kal basyar), Nabi SAW diciptakan dengan fitrah jasad manusia pada umumnya (memiliki sifat marah, sedih, menangis saat berduka, serta merasakan sakit dan demam saat terluka). Oleh karena itu, dalam susunan jasad manusiawi beliau, pintu masuk godaan setan tetap diciptakan. Namun, pada usia 4 tahun, pintu tersebut dikeluarkan oleh Allah melalui Malaikat Jibril untuk menampakkan kemuliaan dan keutamaan mutlak beliau dibanding manusia biasa.
- Pendapat Kedua (Takwilan Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki): Istilah “bagian setan dari dirimu” ditakwilkan sebagai bagian rahmat Nabi SAW yang tadinya diperuntukkan bagi setan. Sebab Nabi SAW diutus sebagai Rahmatan lil ‘Alamin (rahmat bagi seluruh alam—di mana ‘alamin bermakna ma siwallah atau segala sesuatu selain Allah, mencakup malaikat, manusia, hewan, tumbuhan, hingga jin). Namun, karena iblis dan setan telah divonis mutlak (matrud) sebagai penghuni neraka selama-lamanya, bagian rahmat tersebut dikeluarkan dari diri Nabi sejak usia 4 tahun agar setan tidak mendapatkan sedikit pun bagian dari rahmat beliau.
Sesi Tanya Jawab Kajian (Penjelasan Isu-Isu Penting)
A. Hakikat Mimpi Bertemu Rasulullah SAW
- Pertanyaan Peserta: Apakah wujud Nabi Muhammad SAW yang terlihat dalam mimpi benar-benar persis dengan jasad beliau atau berubah sesuai tingkat kerinduan dan kadar iman kita?
- Kebenaran Hadis: Hadis sahih menegaskan bahwa barangsiapa melihat Nabi dalam mimpi, ia benar-benar melihat beliau karena setan tidak memiliki kemampuan untuk menyerupai rupa Rasulullah SAW.
- Tingkatan Penampakan Wujud: Penampakan wujud Nabi dalam mimpi bertahap sesuai dengan kadar iman, ketakwaan, dan kebersihan batin seseorang. Pada tahap awal, seseorang sering kali melihat penampakan Nabi dalam rupa guru atau syekh pembimbingnya. Seiring bertambahnya selawat dan ketakwaan, wujud asli Nabi sebagaimana tercantum dalam kitab Sirah akan terlihat.
- Cerminan Sifat Kebalikan: Apabila seseorang bermimpi melihat Nabi dengan sifat fisik yang berlawanan dari riwayat Sirah (misalnya berkulit hitam atau bertubuh pendek), hal itu merupakan cerminan (pantulan) dari amal perbuatan si pemimpi sendiri yang masih banyak kekurangan, kelalaian, atau maksiat.
B. Maksud “Pintu Masuk Setan” pada Tubuh Manusia
- Pertanyaan Peserta: Apakah bagian atau pintu masuk setan yang dibersihkan dari tubuh Nabi tersebut berbentuk organ fisik (isi) atau sekadar kiasan?
- Sifat Maknawi: Istilah “pintu masuk setan” bersifat maknawi (perumpamaan/konsep spiritual), bukan merupakan organ fisik (isi) yang dapat disentuh atau dioperasi secara medis. Apabila berbentuk organ fisik, tentu sudah ada dokter spesialis yang membuka praktik operasi pembuangan pintu setan.
- Cara Mempersepit Pintu Setan: Dalam ajaran Islam, jalan masuk setan pada tubuh manusia dapat dipersempit dan dipersulit melalui ibadah berpuasa dan membiasakan rasa lapar.
C. Meluruskan Akidah Terkait Rasulullah Melihat Allah saat Isra Mi’raj
- Pertanyaan Peserta: Apakah saat berada di Sidratul Muntaha Nabi SAW melihat Allah SWT dalam wujud hakiki atau hanya berupa suara dan cahaya semata?
- Akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah: Rasulullah SAW benar-benar melihat Allah SWT saat Isra Mi’raj dengan dibukakan hijab (singkap batas), tanpa terikat bentuk fisik, tempat, atau arah. Prinsip utama yang wajib dipegang adalah sifat Mukhalafatu lil Hawaditsi (Allah tidak serupa dengan makhluk) dan Qiyamuhu Binafsihi (Allah tidak membutuhkan tempat atau ruang).
- Bantahan atas Anggapan Suara atau Cahaya: Pembatasan bahwa Allah berupa suara atau cahaya adalah tidak benar dan dibantah oleh para ulama, karena suara dan cahaya merupakan sifat makhluk (hawadits).
- Hadith Anjuran Bertafakur: Rasulullah SAW melarang umatnya membayangkan zat Allah sebagaimana sabda beliau: “Tafakkaru fi khalqillah wa la tafakkaru fi dhatillah” (Bertafakurlah kalian pada ciptaan Allah, dan jangan sekali-kali bertafakur pada zat Allah). Pembukaan hijab memungkinkan Nabi melihat Allah secara hakiki tanpa dapat dijangkau oleh batas akal pikiran manusia.
Penutup & Doa
Semoga pembahasan Sirah Nabawiyah mengenai kecerdasan, keberkahan masa kecil, serta hikmah peristiwa pembelahan dada Rasulullah SAW ini dapat semakin memperdalam rasa cinta (mahabbah) kita kepada Nabi Muhammad SAW dan menguatkan akidah kita kepada Allah SWT. Semoga Allah senantiasa melimpahkan kesehatan walafiat serta keistiqamahan kepada kita semua.
Bismillahirrahmanirrahim. Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammadin wa ‘ala ali sayyidina Muhammad. Allahumma inna nas’aluka al-‘afwa wal-‘afiyah fit dini wad dunya wal akhirah. Rabbana atina fid dunya hasanah wa fil akhirati hasanah wa qina ‘adzaban nar. Wa shallallahu ‘ala sayyidina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa baraka wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.



