KAJIAN

Kitab Arbain AnNawawi (Hadist ke-24)

Ust. Al-Hafidz Ahmad Hanif Shahab
Ust. Al-Hafidz Ahmad Hanif Shahab

Tanggal kajian

Senin, 28 September 2026

Tema

Arba'un Haditsan

Hidayah, Rezeki, Taubat, dan Hakikat Kehambaan dalam Hadis Qudsi ke-24

1. Hadis Qudsi dan Seruan Allah kepada Para Hamba

Hadis Qudsi ke-24 merupakan salah satu hadis yang memiliki kandungan makna yang sangat luas tentang hubungan seorang hamba dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hadis ini diawali dengan seruan Allah kepada para hamba-Nya dengan kalimat “Ya ‘ibadi”, yang berarti wahai hamba-hamba-Ku.

Seruan tersebut mengandung pesan yang sangat mendalam. Allah mengingatkan manusia tentang hakikat dirinya sebagai seorang hamba yang senantiasa membutuhkan pertolongan, petunjuk, rezeki, dan ampunan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Hadis Qudsi memiliki kedudukan yang berbeda dengan Al-Qur’an. Makna hadis qudsi bersumber dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, sedangkan lafaznya disampaikan melalui Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Adapun Al-Qur’an, baik lafaz maupun maknanya berasal dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dengan demikian, hadis ini merupakan sebuah pesan ilahiah yang disampaikan kepada manusia melalui lisan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

2. Hidayah sebagai Nikmat yang Paling Berharga

Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan bahwa seluruh manusia berada dalam keadaan membutuhkan hidayah. Tidak ada seorang pun yang dapat memperoleh petunjuk dengan kekuatannya sendiri tanpa pertolongan Allah.

Karena itu Allah mengajarkan kepada hamba-Nya untuk meminta hidayah kepada-Nya. Hidayah merupakan salah satu nikmat terbesar yang dapat dimiliki oleh seorang manusia.

Seseorang mungkin memiliki harta yang banyak, pakaian yang bagus, kesehatan, kendaraan, kedudukan, dan berbagai kenikmatan dunia lainnya. Namun, apabila ia kehilangan hidayah, seluruh kenikmatan tersebut tidak akan memberikan manfaat yang hakiki.

Sebaliknya, seseorang yang memiliki keterbatasan dalam urusan dunia tetapi mendapatkan hidayah dari Allah, maka ia memiliki nikmat yang jauh lebih besar.

Para ulama mengingatkan bahwa hakikat kekayaan bukan semata-mata banyaknya harta. Orang yang mendapatkan Allah, mendapatkan hidayah dan taufik-Nya, pada hakikatnya telah mendapatkan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada seluruh kenikmatan dunia.

Karena itu, seorang hamba hendaknya senantiasa memohon:

Ya Allah, berikanlah kepada kami hidayah dan teguhkanlah kami di atas jalan-Mu.

3. Manusia Senantiasa Membutuhkan Allah dalam Urusan Rezeki

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga menjelaskan bahwa manusia membutuhkan makanan dan rezeki. Tidak ada seorang pun yang dapat memenuhi kebutuhannya tanpa pertolongan Allah.

Pesan ini tidak hanya ditujukan kepada orang yang miskin. Orang yang memiliki harta berlimpah pun tetap membutuhkan Allah.

Seseorang mungkin memiliki berbagai jenis makanan di hadapannya, tetapi apabila Allah tidak memberikan kemampuan untuk menikmatinya, maka makanan tersebut tidak akan memberikan manfaat kepadanya.

Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan untuk menikmati rezeki juga merupakan nikmat dari Allah.

Oleh karena itu, ketika seorang hamba memperoleh rezeki, hendaknya ia tidak hanya melihat kepada sebab-sebab duniawi, tetapi juga menyadari bahwa pada hakikatnya Allah-lah yang memberikan rezeki tersebut.

Kesadaran ini akan melahirkan rasa syukur dan menjadikan seorang hamba tidak sombong ketika memperoleh kelapangan.

4. Nikmat Pakaian dan Kewajiban Mensyukurinya

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga mengingatkan manusia tentang nikmat pakaian. Manusia dapat berpakaian karena Allah memberikan kemampuan dan rezeki untuk memperolehnya.

Kesadaran terhadap nikmat ini seharusnya membawa seorang muslim kepada rasa syukur dan ketaatan.

Jika suatu nikmat berasal dari Allah, maka sudah semestinya nikmat tersebut digunakan sesuai dengan apa yang Allah ridhai.

Pakaian bukan hanya persoalan keindahan dan kenyamanan, tetapi juga bagian dari ketaatan kepada Allah. Seorang muslim hendaknya memperhatikan ketentuan syariat dalam berpakaian dan tidak menjadikan nikmat yang diberikan Allah sebagai sarana untuk melakukan sesuatu yang tidak diridhai-Nya.

Dengan demikian, syukur terhadap nikmat bukan hanya dengan mengucapkan Alhamdulillah, tetapi juga dengan menggunakan nikmat tersebut sesuai dengan kehendak Allah.

5. Luasnya Ampunan Allah dan Pentingnya Taubat

Di antara pesan terbesar dalam hadis ini adalah penjelasan tentang dosa dan ampunan Allah.

Manusia tidak terlepas dari kesalahan. Dalam kehidupan sehari-hari, seorang hamba dapat melakukan dosa pada siang maupun malam hari. Namun, Allah Subhanahu wa Ta’ala membuka pintu ampunan bagi hamba-hamba-Nya yang kembali dan bertaubat.

Hal ini menunjukkan betapa luasnya rahmat Allah.

Seorang muslim tidak boleh menjadikan dosa sebagai alasan untuk berputus asa dari rahmat Allah. Sebaliknya, ketika melakukan kesalahan, ia harus segera kembali kepada Allah, memohon ampun, dan berusaha memperbaiki dirinya.

Allah menyukai hamba yang bertaubat. Karena itu, seorang mukmin hendaknya memperbanyak istighfar dan tidak merasa bahwa dirinya sudah terlalu banyak melakukan dosa sehingga tidak mungkin mendapatkan ampunan Allah.

Selama seorang hamba masih hidup, pintu taubat masih terbuka.

6. Muhasabah sebagai Jalan untuk Memperbaiki Diri

Salah satu cara agar seorang hamba dapat memperbanyak istighfar adalah dengan melakukan muhasabah atau introspeksi diri.

Seorang muslim hendaknya tidak hanya memperhatikan kesalahan orang lain, tetapi juga melihat dirinya sendiri.

Ia perlu bertanya kepada dirinya: apa yang telah dilakukan hari ini? Amal apa yang sudah baik? Kesalahan apa yang telah dilakukan? Apa yang perlu diperbaiki?

Para ulama terdahulu memberikan perhatian besar terhadap muhasabah. Mereka mengevaluasi amal yang telah dilakukan. Apabila menemukan kebaikan, mereka bersyukur kepada Allah karena kebaikan tersebut merupakan taufik dari-Nya. Apabila menemukan kesalahan, mereka segera beristighfar dan memohon ampun kepada Allah.

Muhasabah menjadikan seorang hamba lebih peka terhadap kesalahan dirinya. Dengan demikian, ia tidak menunggu teguran sebelum memperbaiki diri.

7. Ketakwaan Berasal dari Hati dan Tercermin dalam Perbuatan

Hadis ini juga mengandung pelajaran penting tentang hakikat takwa.

Ketakwaan tempatnya berada di dalam hati. Namun, sesuatu yang berada di dalam hati akan memiliki pengaruh terhadap perilaku seseorang.

Takwa bukan sekadar penampilan, pakaian, atau simbol lahiriah. Ketakwaan akan terlihat melalui amal dan sikap seorang hamba dalam kehidupan sehari-hari.

Orang yang bertakwa akan berusaha menggunakan pakaiannya sesuai dengan ketentuan Allah. Ia akan berusaha mencari rezeki dengan cara yang halal. Ia akan menjaga lisannya, ibadahnya, hubungan dengan sesama, dan seluruh perilakunya.

Karena itu, tidak tepat apabila seseorang menjadikan alasan bahwa “yang penting hati baik” sementara perbuatannya terus-menerus bertentangan dengan perintah Allah.

Hati yang bertakwa akan mendorong pemiliknya untuk melakukan ketaatan.

8. Allah Mahakaya dan Tidak Membutuhkan Makhluk-Nya

Hadis ini juga menunjukkan kesempurnaan kekuasaan dan kekayaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Seandainya seluruh manusia dan jin, dari generasi pertama hingga generasi terakhir, memiliki ketakwaan seperti manusia yang paling bertakwa, hal tersebut tidak akan menambah sedikit pun kerajaan dan kekayaan Allah.

Sebaliknya, seandainya seluruh manusia dan jin melakukan kemaksiatan, hal tersebut juga tidak akan mengurangi sedikit pun kekuasaan Allah.

Allah tidak membutuhkan ketaatan makhluk-Nya. Justru manusialah yang membutuhkan Allah.

Ibadah yang dilakukan seorang hamba tidak memberikan keuntungan kepada Allah. Manfaat dari ibadah tersebut kembali kepada hamba yang melakukannya. Demikian pula kemaksiatan tidak mengurangi kebesaran Allah, tetapi justru memberikan kerugian kepada orang yang melakukannya.

Kesadaran ini seharusnya membuat seorang hamba semakin ikhlas dalam beribadah.

9. Luasnya Karunia Allah

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga menggambarkan keluasan karunia-Nya. Seandainya seluruh makhluk meminta kepada Allah dan Allah memberikan seluruh permintaan tersebut, kekayaan Allah tidak akan berkurang sedikit pun.

Perumpamaan yang disebutkan dalam hadis menggambarkan hal tersebut seperti sebuah jarum yang dicelupkan ke dalam lautan kemudian diangkat kembali. Air laut yang menempel pada jarum tersebut tidak mengurangi lautan sedikit pun.

Demikianlah gambaran keluasan kerajaan dan kekayaan Allah.

Karena itu, seorang hamba tidak perlu ragu untuk memohon kepada Allah. Jangan merasa bahwa permintaan kita terlalu banyak atau terlalu besar bagi Allah.

Allah Mahakaya dan memiliki seluruh kerajaan langit dan bumi.

10. Doa Harus Disertai Ikhtiar

Salah satu pembahasan penting yang muncul dalam kajian ini adalah bagaimana memahami perintah untuk meminta kepada Allah.

Memohon kepada Allah tidak berarti meninggalkan usaha.

Seorang muslim diperintahkan untuk berdoa sekaligus menjalankan sebab-sebab yang telah Allah tetapkan.

Ketika lapar, seseorang berdoa kepada Allah agar diberikan rezeki, tetapi ia juga harus berusaha mencari makanan. Ketika membutuhkan penghasilan, ia memohon kepada Allah sekaligus bekerja dan mencari rezeki dengan cara yang halal.

Inilah bentuk tawakal yang benar.

Tawakal bukan berarti hanya berdoa tanpa melakukan usaha. Sebaliknya, seseorang mengambil sebab dengan sungguh-sungguh, sementara hatinya tetap bergantung kepada Allah.

Gambaran tentang burung menjadi salah satu contoh yang sangat jelas. Burung keluar dari sarangnya dalam keadaan lapar dan kembali dalam keadaan kenyang. Ia bertawakal kepada Allah, tetapi tetap keluar untuk mencari rezeki.

Dengan demikian, doa dan ikhtiar bukan dua hal yang saling bertentangan. Keduanya berjalan bersama dalam kehidupan seorang mukmin.

11. Jangan Menjadikan Takdir sebagai Alasan Meninggalkan Ketaatan

Takdir Allah tidak boleh dijadikan alasan untuk meninggalkan kewajiban.

Seseorang tidak semestinya mengatakan bahwa dirinya belum mendapatkan hidayah lalu menjadikan hal tersebut sebagai alasan untuk tidak melaksanakan salat, tidak menghadiri majelis ilmu, atau meninggalkan ketaatan lainnya.

Sebagaimana seseorang diperintahkan untuk mencari rezekinya, ia juga harus berusaha mencari hidayah.

Hidayah tidak dicari dengan berdiam diri. Seorang hamba harus mendekatkan diri kepada Allah, memperbanyak doa, menghadiri majelis ilmu, membaca Al-Qur’an, memperbanyak ibadah, dan berusaha berada di lingkungan yang baik.

Karena itu, apabila seseorang menginginkan hidayah, hendaknya ia menjemput sebab-sebab datangnya hidayah.

12. Setiap Hamba Memiliki Keadaan yang Berbeda

Dalam kehidupan, Allah menempatkan manusia dalam keadaan yang berbeda-beda.

Ada orang yang berada dalam keadaan harus bekerja dan mencari penghasilan. Ada pula orang yang telah berada dalam keadaan tidak lagi memiliki kewajiban untuk bekerja karena faktor usia atau keadaan tertentu.

Masing-masing memiliki adab dan tanggung jawab yang berbeda sesuai dengan keadaan yang Allah tetapkan.

Orang yang masih memiliki kemampuan untuk bekerja hendaknya bekerja dengan baik, mencari rezeki yang halal, dan menunaikan hak serta kewajibannya.

Adapun orang yang telah berada dalam keadaan tidak lagi bekerja, hendaknya memanfaatkan waktunya untuk memperbanyak ibadah, membaca Al-Qur’an, berzikir, bershalawat, dan melakukan amal saleh.

Yang terpenting adalah bagaimana seorang hamba berakhlak kepada Allah sesuai dengan keadaan yang Allah tetapkan kepadanya.

13. Mencari Dunia Tanpa Menjadikannya Tujuan Utama

Islam tidak melarang seorang muslim mencari harta.

Seseorang boleh bekerja, berdagang, mengembangkan usaha, dan mencari rezeki sebanyak-banyaknya melalui jalan yang halal.

Yang menjadi persoalan bukanlah banyak atau sedikitnya harta, tetapi bagaimana kedudukan dunia tersebut di dalam hati.

Dunia harus dipandang sebagai sesuatu yang sementara. Kesadaran terhadap kefanaan dunia akan membuat seseorang tidak mudah sombong ketika mendapatkan rezeki dan tidak mudah berputus asa ketika kehilangan sesuatu.

Ketika mendapatkan rezeki, ia bersyukur. Ketika rezeki belum datang, ia tetap berusaha dan bertawakal kepada Allah.

Dengan demikian, seseorang dapat memiliki harta tanpa harus menjadikan harta sebagai tujuan hidupnya.

14. Setiap Amal Akan Diperhitungkan

Pada bagian akhir hadis, Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan bahwa seluruh amal manusia akan dihitung.

Tidak ada amal yang sia-sia di sisi Allah. Kebaikan sekecil apa pun akan diperhitungkan, demikian pula keburukan sekecil apa pun akan diperhitungkan.

Karena itu, seorang muslim tidak boleh meremehkan kebaikan sekecil apa pun dan tidak boleh menganggap ringan sebuah dosa hanya karena terlihat kecil.

Apabila mendapatkan kebaikan, hendaknya ia bersyukur kepada Allah karena kebaikan tersebut merupakan taufik dari-Nya.

Sebaliknya, apabila mendapatkan keburukan sebagai akibat dari perbuatannya, hendaknya ia melakukan introspeksi dan memperbaiki dirinya, bukan sibuk menyalahkan orang lain.

15. Penutup: Hakikat Seorang Hamba

Hadis Qudsi ke-24 pada akhirnya mengajarkan kepada kita tentang hakikat seorang hamba: manusia adalah makhluk yang lemah dan senantiasa membutuhkan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kita membutuhkan hidayah-Nya agar tetap berada di jalan yang benar. Kita membutuhkan rezeki-Nya untuk memenuhi kebutuhan hidup. Kita membutuhkan pertolongan-Nya dalam setiap urusan. Kita membutuhkan ampunan-Nya atas dosa dan kesalahan kita.

Karena itu, seorang mukmin hendaknya senantiasa kembali kepada Allah.

Berdoalah kepada-Nya, tetapi jangan meninggalkan usaha. Carilah rezeki, tetapi jangan menggantungkan hati kepada harta. Beribadahlah dengan sungguh-sungguh, tetapi jangan merasa bahwa amal kita membuat Allah membutuhkan kita. Ketika melakukan dosa, segeralah bertaubat. Ketika memperoleh nikmat, bersyukurlah. Dan ketika mendapatkan kesulitan, bersabarlah serta tetap berharap kepada Allah.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kepada kita hidayah yang terus-menerus, mengampuni dosa-dosa kita, memberikan rezeki yang halal dan penuh keberkahan, serta menjadikan hati kita dipenuhi ketakwaan.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Diperbarui tanggal 04 Oktober 2026